Minggu, 30 Mei 2010


Gandabayu



Prabu Gandabayu adalah raja Cempalaradya,ia disebut juga dengan nama Prabu Dupara.Dari permaisurinya yang bernama Dewi Wisri,Prabu Gandabayu mendapat dua orang anak.Yang sulung seorang putri cantik bernama Dewi Gandawati,yang kemudian kawin dengan Bambang Sucitra.Menantunya inilah yang kemudian menggantikannya sebagai raja di Cempala dengan gelar Prabu Drupada.Adik Gandawati bernama Gandamana,seorang ksatria gagah yang mulanya menjadi Patih di Kerajaan Astina kemudian karena hasutan Sengkuni,Gandamana kembali lagi ke Kerajaan Cempala.Prabu Gandabayu mewarisi tahta kerajaan dari ayahnya yaitu Prabu Sengara.Nama-nama Gandabayu,Gandamana dan Prabu Sengara hanya terdapat dalam kisah pewayangan,bukan dari kitab Mahabarata.

Sabtu, 29 Mei 2010


Gagak Baka



Gagak Baka adalah patih Kerajaan Jodipati pada zaman pemerintahan Prabu Dandunwacana.Setelah Bima mengalahkan Dandunwacana,Patih Gagakbaka mengabdi pada Bima,yang tetap memberikan kedudukan patih kepadanya.Kerajaan Jodipati lalu diambil alih Bima dan dijadikan kasatriyannya.Versi menyebutkan,Gagak Baka adalah putera Prabu Garudawinata dari Kerajaan Slagaima atau Gendingpitu.Menurut pedalangan gagrak Jogjakarta,Gagakbaka bersaudara 40 orang.Namun yang terkenal hanyalah Bima Kurda,Tambak Ganggeng,Podang Binorehan,Ganggeng Kanyut,Macan Anglur,dan Kuntul Wilanten.

Dalam lakon Parta Krama,Gagakbaka diutus Bima mencari kera putih sebagai salah satu syarat perkawinan Arjuna dengan Dewi Subadra.Tugas itu dilakukan dengan baik,seekor kera berbulu putih bernama Pracandaseta bersedia membantunya.Pengabdian Patih Gagakbaka pada Bima dan keluarga Pandawa lainnya dilakukan dengan ikhlas.Ia juga ikut beperang di pihak Pandawa dalam Baratayuda sebagai pendamping Bima,dan gugur di hari ke-16.Waktu itu bertugas sebagai pembuka jalan menerobos barisan Kurawa agar Bima dapat mendekati Adipati Karna guna membalas dendam atas kematian Gatotkaca.Gagakbaka akhirnya gugur di tangan Dursasana.

Jumat, 28 Mei 2010


Erawati



Dewi Erawati dalam pewayangan adalah satu-satunya istri Prabu Baladewa,raja Negeri Mandura.Ia adalah puteri sulung Prabu Salya,raja Mandaraka dan ibunya bernama Dewi Setyawati atau Pujawati.Dewi Erawati mempunyai empat orang adik yaitu,Surtikanti yang diperistri Adipati Karna,Banowati yang diperistri Duryudana,Burisrawa dan Rukmarata.Ketiga puteri Prabu Salya memang cantik semua,demikian juga si bungsu Rukmarata berwajah tampan.Hanya Burisrawa yang lahir berujud setengah raksasa,hal ini disebabkan karena kutukan para dewa pada Prabu Salya yang ketika masih muda membunuh mertuanya yang berujud raksasa,Begawan Bagaspati.

Perkawinan Dewi Erawati dengan Baladewa terjadi ketika putera mahkota Kerajaan Mandura itu masih hidup sebagai pertapa dengan nama Wasi Jaladara.Dalam pewayangan kisah perkawinan Erawati dengan Baladewa terdapat dalam lakon Kartawiyoga Maling.Suatu ketika Kerajaan Mandaraka heboh karena puteri sulung Prabu Salya hilang diculik orang.Setelah mengerahkan para prajuritnya untuk mencari Dewi Erawati tidak berhasil,Prabu Salya mengumumkan sayembara,barangsiapa dapat menemukan dan mengembalikan Dewi Erawati ke Mandaraka,ia akan diangkat sebagai menantu dan dikawinkan dengan Dewi Erawati.Prabu Anom Suyudana,penguasa Astina,adalah salah satu pesertanya.Ia memerintahkan para Kurawa dan bala tentara Astina untuk membantu mencari Dewi Erawati.

Di Kerajaan Mandaraka,Arjuna menghadap Prabu Salya dan menawarkan bantuannya untuk mencari Dewi Erawati,walaupun tidak bermaksud mengikuti sayembara.Ketika itu Arjuna sempat bertemu dan berkenalan dengan Dewi Surtikanti dan Banowati.Kedua kakak beradik itu sama-sama jatuh cinta pada Arjuna,Namun ternyata Arjuna lebih menyukai Banowati,hal ini menyebabkan Dewi Surtikanti cemburu dan sakit hati.Karena merasa cintanya tidak ditanggapi,Surtikanti lalu mengutuk,nantinya dalam perjalanan mencari Dewi Erawati,Arjuna akan merasa kelaparan.Dan benar,selama dalam perjalanan mencari Erawati yang diculik itu,Arjuna selalu diganggu rasa lapar.Apalagi setelah ia memasuki wilayah Widarakandang,Arjuna tidak dapat lagi menahan laparnya.Ia lalu memerintahkan para Panakawan untuk mencari makan untuknya.Untunglah Arjuna kemudian bertemu dengan Wasi Jaladara alias Kakrasana yang mengingatkan bahwa seorang ksatria seharusnya sanggup menahan lapar.Dalam perjumpaannya dengan Wasi Jaladara itu,Arjuna menganjurkan agar Wasi Jaladara mengikuti sayembara itu.Keduanya lalu kembali ke Mandaraka,Wasi Jaladara minta ijin agar dibolehkan memasuki ruang keputren sebab menurut firasatnya,Sang Penculik akan kembali,dan karenanya ia akan mencegat penculik itu di tempat keputren ini.

Sementara itu,Dewi Erawati yang diculik oleh Kartawiyoga telah berada di Kerajaan Tirtakandasan,sebuah negeri di bawah laut.Ketika Kartawiyoga merayu dan hendak mengawininya,timbullah akal Dewi Erawati.Ia mengatakan pada penculiknya,dia bersedia menjadi istrinya asal dua orang adik perempuannya,Surtikanti dan Banowati,juga diperistri olehnya juga.Karena ia merasa tidak sanggup berpisah dengan kedua adik yang disayanginya itu.Kartawiyoga setuju dan segera kembali ke Mandaraka dengan tujuan menculik kedua adik Erawati itu.Untuk memenuhi permintaan Dewi Erawati,segera saja Kartawiyoga berangkat lagi ke Kerajaan Mandaraka.Dengan aji Panyirep,Kartawiyoga membuat tidur semua penghuni istana,dengan demikian ia mudah memasuki keputren,langsung ke ruangan tempat Dewi Surtikanti dan Banowati tidur.Namun ketika ia hendak membawa kedua putri itu,ternyata yang ada adalah Wasi Jaladara dan Arjuna.Keduanya lalu berusaha meringkus sang penculik tetapi berhasil lolos.Wasi Jaladara dan Arjuna kemudian mengejarnya sampai ke Kerajaan Tirtakandasan.Akhirnya Wasi Jaladara berhasil membunuh Kartawiyoga dan ayahnya Prabu Kurandageni,raja Tirta Kandasan.Pada waktu bertanding melawan Prabu Kurandageni,Wasi Jaladara berpesan agara Arjuna membawa Dewi Erawati kembali ke Mandaraka.

Dalam perjalanannya ke Mandaraka,untuk mengantarkan Dewi Erawati,Arjuna bertemu para Kurawa yang dipimpin oleh Patih Sengkuni.Mereka minta agar Dewi Erawati diserahkan pada para Kurawa sebab putri sulung Prabu Salya itu akan dipersunting Prabu Duryudana.Arjuna menolak,sedangkan para Kurawa memaksa.Akibatnya terjadilah perkelahian.Untunglah Bima dan Wasi Jaladara segera datang membantu sehingga para Kurawa lari tunggang langgang pulang ke Astina.Sesuai dengan bunyi sayembara,Prabu Salya akhirnya menikahkan Dewi Erawati dengan Wasi Jaladara alias Kakrasana alias Baladewa.Setelah Baladewa menjadi Raja Mandura,Dewi Setyawati kemudian dinobatkan menjadi permaisurinya.Dari pernikahannya ini,Dewi Erawati mendapat dua orang anak yaitu Wisata dan Wimuka.Dewi Erawati tergolong wanita yang beruntung karena Prabu Baladewa termasuk suami yang sangat setia pada istrinya,Baladewa tidak pernah melirik wanita manapun sampai akhir hayatnya.Kelak di masa tuanya,Baladewa lengser keprabon,meninggalkan istana dan hidup menjadi pertapa di Talkanda dan bergelar Begawan Curiganata.Pada saat itu Dewi Erawati tetap tinggal di istana Mandura mendampingi Wisata yang naik tahta menjadi Raja Mandura.

Batara Endra



Batara Endra adalah salah seorang anak Batara Guru.Kekuasaanya cukup banyak,ia bertanggung jawab pada ketertiban kahyangan,memimpin para bidadari,mengurusi berbagai hadiah dari para dewa untuk manusia yang berjasa.Menurut kitab Mahabarata,Batara Endra adalah dewa penguasa petir dan guntur.Dewa ini bertempat tinggal di Kahyangan Tenjamaya.Dalam pewayangan yang menjadi pemuka para dewa adalah Batara Guru,namun dalam Mahabarata,pemuka para dewa adalah Batara Endra atau Indra ini,dan kahyangan tempat tinggalnya adalah Indraloka,Indrabawana atau Kaindran.

Batara Endra mempunyai seekor gajah tunggangan yang luar biasa besar yang diberi nama Airawata.Senjatanya yang terkenal diberi nama Bajra yang bilamana diarahkan ke musuhnya berubah menjadi petir.Senjata yang luar biasa ampuh ini,adalah penjelmaan tulang belulang Maharsi Datica.Keterangan ini didapat dari Mahabarata.Dalam pewayangan,dari perkawinannya dengan Dewi Wiyati,Batara Endra mempunyai lima putera dan tiga puteri yang pertama bernama Dewi Tara,yang menikah dengan Resi Subali dan kemudian oleh Prabu Sugriwa.Yang kedua adalah Dewi Tari,yang dinikahkan dengan Rahwana,raja Alengka.Yang ketiga adalah Dewi Supraba,yang menikah dengan Arjuna.Sedangkan lima puteranya adalah Batara Citrarata,Citranggana,Citrasena,Jayantaka,dan Jayantara.

Ketika Arjuna bertapa di Gunung Indrakila dan memakai nama Begawan Ciptaning,Batara Endra datang menemuinya dan menyamar sebagai brahmana bernama Resi Padya.Guna mengetahui ketangguhan Arjuna dalam ilmu kasampurnan,ia menantang adu debat dengan Begawan Ciptaning,tetapi kalah.Perdebatan ini adalah salah satu ujian untuk memastikan apakah Arjuna benar-benar manusia terpilih yang pantas diangkat menjadi jago para dewa untuk menghadapi Prabu Niwatakawaca yang mengancam kewibawaan kahyangan.Sewaktu Arjuna hendak menghadapi Niwatakawaca,Batara Endra menganugerahinya anak panah pusaka Pasopati.Dengan anak panah itulah Prabu Niwatakawaca berhasil dibunuh.

Baik dalam Mahabarata atau pewayangan,Batara Endra adalah ayah Arjuna yang sesungguhnya.Batara Endra menemui Dewi Kunti,istri Pandu Dewanata,yang merapal Ajian Adityarhedaya.Karena itulah Batara Endra selalu memberi pertolongan pada Arjuna bilamana ksatria Pandawa itu membutuhkannya,baik diminta maupun tidak.Menjelang Baratayuda,sebagai seorang ayah,Batara Endra merasa khawatir akan keselamatan Arjuna.Ia tahu bahwa dalam perang besar Baratayuda nantinya,Arjuna tentu akan berhadapan dan mengadu kesaktian dengan Basukarna,putera Batara Surya.Keduanya sama-sama tangguh dan sakti.Batara Endra juga tahu,Karna memiliki beberapa pusaka ampuh,diantaranya adalah baju Kerei Kaswargan yang membuatnya kebal terhadap segala macam senjata dan Anting-anting Mustika yang menyebabkan Karna memiliki firasat tajam terhadap segala bahaya yang mengancam.Kedua pusaka sakti ini yang merupakan pemberian Batara Surya itu telah dimiliki Basukarna sejak lahir.Karena itu untuk membantu Arjuna memenangkan perang dalam Baratayuda,Batara Endra lalu berusaha mengambil pusaka-pusaka yang menjadi andalan Basukarna.Dengan cara menyamar sebagai brahmana tua,Batara Endra berhasil meminta pusaka-pusaka Karna itu.Sebenarnya Karna sudah tahu dari keterangan Batara Surya,bahwa yang menemuinya adalah Batara Endra yang menyamar dan berusaha mengelabuinya.Namun Karna pura-pura tidak tahu dan dengan ikhlas memberikan pusakanya.

Batara Endra juga berwenang mengatur pemberian hadiah pada mereka yang dianggap berjasa pada para dewa.Hadiah itu berupa pusaka namun bisa juga berupa bidadari.Hadiah yang berupa bidadari diberikan tidak hanya pada manusia ,namun juga pada para raksasa dan kera.Sugriwa misalnya,walaupun berujud raksasa,istrinya yang bernama Dewi Tara adalah bidadari pemberian Batara Endra,sebagai hadiah atas bantuannya mengalahkan musuh para dewa.Begitupun juga Begawan Bagaspati yang dianggap berjasa pada para dewa diberi hadiah bidadari bernama Dewi Darmastuti,padahal ia seorang pandita raksasa.Kadang-kadang Batara Endra juga terpaksa memberikan bidadari pada musuh yang dianggap mengancam kahyangan sebagai suapan.Seperti pemberian tiga bidadari sekaligus pada Dasamuka sebagai pengganti Dewi Widawati yang dituntut oleh Dasamuka.Karena Dewi Widawati adalah istri Batara Wisnu,jadi sulit bagi Batara Endra mengabulkan permintaan Dasamuka.Batara Endra juga pernah turun ke dunia,menyamar sebagai raksasa sakti bernama Rukmuka yang menghadang Bima yang sedang mencari Tirta Perwitasari sebagaimana yang diperintahkan Resi Drona.

Emban



Emban adalah wanita pengasuh di lingkungan istana bagi keluarga bangsawan.Wanita ini dipekerjakan sebagai pengasuh,penghibur,sekaligus penjaga keselamatan seorang putera atau puteri raja sejak kanak-kanak.Umur mereka biasanya hanya beberapa tahun lebih tua dari anak asuhannya.Sampai anak asuhannya dewasa,biasanya mereka masih tetap mengabdi.

Dalam pewayangan,cukup banyak emban yang terkenal dan memiliki peran cukup penting dalam berbagai lakon.Lesmana Mandrakumara alias Sarojakusuma,putera mahkota Astina,misalnya memiliki dua emban setia,yaitu Emban Abiseca dan Emban Secasrawa.Keduanya gugur dalam Baratayuda,menjadi korban amukan Abimanyu,beberapa saat sebelum Lesmana Mandrakumara mati.Dewi Pujawati alias Setyawati,istri Prabu Salya juga mempunyai emban setia,yakni Emban Sugandini,yang menemani Sang Dewi menjelajah padang Kurusetra untuk mencari jenazah Prabu Salya.Setelah jenazah Raja Mandaraka itu ditemukan,Dewi Setyawati segera menghunus patrem dan menghunjamkannya di dadanya,bunuh diri di samping jenazah suaminya.Emban Sugandini pun ikut bunuh diri di dekat jenazah majikannya.

Emban Sawega,dari Kadipaten Awangga,juga aktif dalam perang Baratayuda.Sewaktu Adipati Karna bertindak sebagai senapati perang di pihak Kurawa,Emban Sawega bertindak sebagai pembuka jalan bagi pasukan Kurawa.Emban Sawega akhirnya tewas terkena panah Arjuna,karena dianggap mengganggu.Selain itu emban juga terdapat di kalangan para raksasa.Dalam lakon Cekel Indralaya terdapat tokoh cukup penting bernama Emban Yaksi Kalabahni yang berujud raksasa.Selain sakti,Emban Kalabahni juga cerdas dan banyak akalnya sehingga disayang oleh rajanya,Prabu Kala Hirupaksa dari Kerajaan Jurangmas.

Rabu, 26 Mei 2010


Ekalaya



Ekalaya dalam dunia pewayangan dikenal sebagai raja tampan dan sakti yang beristrikan wanita cantik dan setia bernama Dewi Anggraini.Ia adalah putera Prabu Hiranyadanu dari Negeri Nisada atau Paranggelung yang kemudian ia mewarisi tahta ayahnya.Prabu Ekalaya dikenal juga dengan nama Palgunadi.

Ketika mendengar tentang adanya guru pandai yang bernama Resi Drona,ia datang ke Kerajaan Astina dan melamar menjadi muridnya.Namun keinginannya itu tidak terlaksana,sebab Resi Drona telah berjanji hanya akan mengajarkan ilmunya pada para Kurawa dan Pandawa saja.Karena tidak diterima sebagai murid,Ekalaya lalu mencuri dengar setiap kata-kata Drona waktu sedang mengajar.Setelah itupun ia tekun berlatih mempraktekan ajaran Drona.Karena ketekunannya lama kelamaan ilmu yang dimiliki Ekalaya sebanding dengan Arjuna,terutama dalam ilmu memanah.

Suatu hari ketika Ekalaya alias Palgunadi sedang berlatih memanah di hutan,seekor anjing pemburu datang mendekat lalu menggonggonginya.Ekalaya mencoba mengusir,tetap anjing itu tetap menggonggong.Lama-lama habislah kesabarannya,diambilnya tujuh buah anak panah,dipasang pada busurnya,dan dengan sekali bidik,ketujuh anak panah itu melesat lalu menancap tepat ke moncong anjing itu,lalu mati.Tidak lama kemudian datanglah pemilik anjing itu,yaitu Arjuna.Waktu itu memang Arjuna sedang berburu di hutan ditemani oleh anjingnya.Ketika melihat anjingnya mati dengan tujuh buah anak panah menancap sekaligus di moncongnya,ia sangat marah.Selain marah karena kematian anjingnya,Arjuna juga merasa kagum sekaligus cemburu karena keahliannya dalam hal panah memanah kini tersaingi oleh seseorang.Sebagai orang yang selama ini dikenal paling ahli memanah,Arjuna merasa tidak akan sanggup membidik sasaran dengan tujuh buah anak panah sekaligus.Karena itu dengan hati amat penasaran ia mencari siapa orang itu.Setelah akhirnya berjumpa dengan pembunuh anjingnya itu,Arjuna mendapat keterangan bahwa pemanah itu bernama Bambang Ekalaya atau Palgunadi dari negeri Paranggelung.Kepada Arjuna,Ekalaya mengaku bahwa keahliannya memanah dia dapatkan dari Resi Drona,yang dianggapnya sebagai gurunya.

Setelah mendengar keterangan itu Arjuna buru-buru kembali ke istana Astina.Hatinya makin marah karena merasa dikhianati oleh gurunya,Resi Drona.Setelah berjumpa dengan Resi Drona segera saja Arjuna menuduh gurunya itu telah menyalahi janjinya untuk memberikan seluruh ilmunya hanya pada Arjuna.Resi Drona membantah telah mengajarkan ilmu memanah pada orang lain,dan bahkan membantah bahwa dirinya kenal dengan Bambang Ekalaya.Untuk meyakinkan Arjuna bahwa Ekalaya bukan muridnya,Drona minta dipertemukan dengan Ekalaya,lalu Arjuna membawa gurunya itu pada Bambang Ekalaya.Di tempat Ekalaya,Drona melihat sebuah patung menyerupai dirinya.Sementara itu setelah Ekalaya melihat siapa yang datang,segera ia menghaturkan sembah hormatnya,seperti selayaknya murid menyambut kedatangan gurunya.Lalu Resi Drona bertanya siapa guru Ekalaya sebenarnya,dijawab olehnya Resi Drona lah gurunya.Tapi karena tanpa ijin Resi Drona,maka untuk menunjukkan bukti kesetiaan dan kepatuhan murid pada gurunya,Resi Drona meminta Ekalaya memberikan ibu jari tangan kanannya.Ekalaya berpikir sejenak,hatinya ragu,karena sejak lahir pada ibu jari tangan kanannya telah terpasang cincin Mustika Ampal pemberian dewa.Namun karena Ekalaya memang ingin sekali berbakti pada Resi Drona,permintaan itu akhirnya dipenuhi.Ibu jari tangan kanannya segera dipotongnya sendiri,dan diserahkannya pada Resi Drona.Dan demikian sejak itu,Ekalaya tidak dapat lagi memanah dengan baik,karena tangan kanannya kini tinggal memiliki empat jari saja.Sesudah menerima ibu jari tangan Ekalaya,Resi Drona lalu memberikannya pada Arjuna.Terjadilah keajaiban,ibu jari Ekalaya seketika menempel ke tangan kanan Arjuna sehingga sejak itu tangan kanan Arjuna berjari enam.

Beberapa tahun kemudian secara kebetulan,Arjuna bertemu dengan Dewi Anggraini seorang diri,Arjuna langsung terpikat pada istri Bambang Ekalaya itu.Dengan berbagai cara Arjuna berusaha agar Dewi Anggraini bersedia menjadi istrinya walaupun ia tahu bahwa Anggraini telah bersuami.Tetapi Dewi Anggraini ternyata tidak tergoda rayuannya,akhirnya Arjuna berusaha memakai cara kekerasan.Akibatnya untuk menyelamatkan kehormatannya,Anggraini bunuh diri dengan cara menerjunkan diri ke dalam jurang.Peristiwa ini membuat Ekalaya marah besar dan menantang Arjuna untuk bertanding.Ekalaya sadar sejak ia kehilangan Mustika Ampal di ibu jarinya,ia tidak sanggup membidik sasaran dengan baik.Namun demi kehormatan istrinya dan kebanggaan dirinya ia terpaksa menantang Arjuna.Akhirnya Ekalaya memang kalah dan gugur terkena panah Arjuna.Menjelang ajalnya,Ekalaya sadar bahwa Resi Drona telah menipunya dengan meminta ibu jari tangan kanannya.Maka ia pun mengucapkan kutukannya,kelak saat pecah perang Baratayuda arwahnya akan membalas dendam dengan cara menyusup ke tubuh seorang ksatria muda yang pernah berguru pada Resi Drona.Kutukan itu nantinya akan terbukti,dalam Baratayuda Drona akhirnya mati di tangan Drestajumena,putra Prabu Drupada yang disusupi arwah Ekalaya.Dendam arwah Ekalaya bukan pada Arjuna,melainkan pada Resi Drona karena dua hal,yakni sikap Drona yang tidak mau menerimanya sebagai murid dan yang kedua karena Drona telah menipunya dengan meminta ibu jari tangan kanannya sehingga ia kehilangan kemahiran dan kesaktiannya dalam memanah.

Senin, 24 Mei 2010


Dwijakangka



Dwijakangka adalah sebutan atau nama lain dari Puntadewa atau Yudistira.Lengkapnya sebutan itu adalah Tanda Dwijakangka,tetapi kadang-kadang juga disebut Wijakangka.Nama ini digunakan Puntadewa ketika ia bersama Pandawa lainnya menyamar dan bersembunyi di Kerajaan Wirata.Di Wirata,Tanda Wijakangka yang mengaku sebagai bekas penasihat Yudistira diangkat sebagai penasihat Raja.Karena pandai main catur,Dwijakangka akhirnya menjadi kesayangan Raja Wirata,karena Prabu Mastwapati juga gemar bermain catur.

Sewaktu Kencakarupa dan Rupakenca menantang Prabu Matswapati adu jago manusia,Tanda Dwijakangka menyarankan agar menunjuk Jagal Abilawa yakni Bima yang menyamar sebagai penyembelih hewan,sebagai jago Sang Raja.Demikian pula sewaktu Raja Trigata bersama bala tentara Astina menyerbu Wirata,Dwijakangka menyarankan agar Prabu Matswapati menunjuk Kendi Wrahatnala,yang tak lain adalah Arjuna,untuk mendampingi Utara dalam melawan musuh.Hasilnya serbuan mendadak itu dapat digagalkan.Semua saran itu diikuti Prabu Matswapati,dan ternyata berhasil dengan baik.