Selasa, 13 Juli 2010

Metalurgi Keris

Nikel adalah merupakan salah satu unsur / mineral yang digunakan sebagai bahan pamor. Sedangkan Galena, Pyrite, serta Chalcopyrite merupakan beberapa diantara sebagai bahan baku besi. Dalam proses pewarangan Nikel memunculkan warna kilap metallic agak biru kekuningan, sedangkan Sulfida Besinya (Galena, Pyrite, Chalcopyrite) akan berwarna hitam keabuan. Dalam keadaan setelah diputih (setengah kering) mineral ini akan berbau sulfida kuat.

Slorok adalah besi yang kemudian dikarburasi menjadi baja. Ia digunakan sebagai tulang penguat bilah dan ditempatkan diantara saton (diapit) - Bahan dasar slorok pada umumnya adalah besi biasa. Akan tetapi yang lebih baik lagi jika slorok adalah besi yang diwasuh secara maksimal kemudian dikarburasi.

Ada perbedaan antara slorok tangguh sepuh dengan nom..Pada tangguh sepuh,slorok adalah besi yang diwasuh maksimal,pada tangguh nom slorok adalah besi fabrikasi(buatan pabrik)..Keduanya kemudian dikarburasi/dibajakan..Jenis besi juga berbeda,terutama pada persen kadar Fe-nya dan unsur pengotor..Penempatan slorok tangguh sepuh dengan nom pada umumnya tidak berbeda,kecuali pada tangguh sepuh tertentu..Warna slorok tangguh sepuh dengan nom juga nyaris berbeda,ini sangat tergantung pada jenis serta tingkat kemurnian besi yang digunakan..

Slorok tangguh sepuh tertentu,misalkan tangguh Majapahit malah seakan tidak menggunakan slorok, sebenarnya ada tetapi sangat sedikit dan tertutup dengan satonnya yang diwasuh maksimal( saton Majapahit ini jarang dikarburasi)..Demikian pula untuk era Singasari/era Buddha,saton diwasuh secara maksimal kemudian dikarburasi(hingga terkesan rigid/keras/berat dan jika terkorosi,ia tetap memiliki tekstur sesetan..Besi yang diwasuh secara maksimal sekalipun terkorosi berat ia tetap akan menampilkan kesan nglempung..Sesetan,celong,krowak,kropos dan sebagainya pada tangguh sepuh era Buddha akan menampilkan kesan nglempung,berbeda dengan tangguh nom jika mengalami korosi seperti di atas akan tampak lebih terkesan rusak madas..Ngunthug cacing adalah sebutan umum untuk subtekstur hasil korosi yang berujud kumpulan dot/matriks keropos dengan penampilan nglempung..

Ada slorok yang dipasang menyelimuti satonnya,sehingga saat dilakukan cutting maka bidang cekung,seperti blumbangan,sogokan,kruwingan mengeluarkan pamor sedang bidang yang tidak dicutting penampilannya polos,misal tangguh Singasari..

Dalam pembuatan baja istilah karburasi adalah penyepuhan..Besi dikarburasi dengan cara
pembakaran dengan temperatur tertentu/dipijarkan,dan ditiupkan udara mengandung karbon,biasanya dilakukan dalam tanur atau converter..Temperatur yang diperlukan tidak boleh mendekati titik lelehnya(kurang dari 1000 derajat Celsius)-cukup dalam keadaan pijar membara.

Kalau dulu barangkali masih dengan cara seperti yang dikerjakan para pande perkakas pertanian hingga sekarang, yakni dengan dipijar (dengan ububan) hingga membara kemudian dicelup ke dalam oli/air biasa/air laut. Saat ini jika ingin membuat Tosan Aji bahan baku seperti baja maupun besi sudah tersedia/siap pakai. Tapi konon untuk proses sepuh ini paling baik dengan arang dari kayu jati (arang jati menghasilkan panas yang cukup tinggi dan sebagai sumber Carbon yang baik), bukan dengan metode teknik karburasi. Arang kayu (kode kimia arang adalah C) sebagai sumber Karbon, dengan melihat warna nyala (jika ada muncul warna biru bersih merupakan petunjuk bahwa oksidasi akan dapat dilakukan dengan baik) sehingga proses karbonisasi secara alamiah terjadi, baru kemudian dalam keadaan membara bakalan Tosan Aji tersebut dicelupkan ke dalam suatu cairan.Tentang nilai kekerasan baja pada saat dulu barangkali para mPu mempunyai patokan sendiri-sendiri, berbeda dengan sekarang (baja diberi penomoran berdasarkan tingkat kekerasannya)..Tentang besi yang bersifat magnet, kalau teknologi sekarang dalam keadaan bijih (terlebih dahulu dipreparasi dengan mill) bahan tersebut dipisahkan dari unsur" pengotornya (yang non logam) dengan suatu alat yang disebut Magnetic Separator - seperti yang dilakukan pada pasir besi di pantai Selatan. Jaman dulu mungkin saja mereka tidak melakukannya.

Diwasuh (diolah tempa-lipat)....... Untuk slorok setahu saya mereka tidak mewasuhnya, kecuali kodokan yang nantinya akan di-mixing dengan bahan pamor sehigga menjadi saton. Example : Tosan Aji tangguh nem2an HB/PB - mereka jarang sekali mewasuh sloroknya (mungkin saat itu mereka sudah impor), yang diwasuh hanya saton. Untuk era kamardikan saya juga sudah pernah menemukan Tosan Aji dengan pengerjaan seperti dulu (slorok disepuh, saton diwasuh) tapi tentu nilainya menjadi berbeda..Saya juga pernah menemui tangguh nem2an Surakarta, keris tersebut dikerjakan dengan teknik Singosari (saya nggak bisa bayangkan betapa sulitnya tetapi mereka ternyata juga mampu), barangkali saat ini para mPu enggan untuk mengerjakan dengan teknik rumit seperti itu. Kebanyakan tangguh kamardikan yang saya temui mereka hanya menggunakan saton saja (tanpa slorok).


Biasanya yang namanya mutrani itu setahu saya bentuk rancang bangun (arsitekturnya) tetap mengikuti pedoman kepada yang diputrani, hanya berbeda di bahan yang digunakan (karena beda jaman, beda daerah, biasanya akan berbeda) juga berbeda dalam teknik pengerjaannya.Sebenarnya mutrani itu sama juga dengan istilah meng-kloning....Yang sulit ditiru itu bahan serta teknik pengerjaannya - coba saja buat Tosan Aji mencontoh tekniknya Blambangan itu.... mereka pasti mumet.... karena mereka harus berfikir keras tentang:
1) jenis serta alloy untuk bahan pamor
2) jenis bahan besi yang digunakan serta kadar Fe-nya
3) teknik tempa yang digunakan dengan konvigurasi selang-seling antara pamor induk dengan pamor anak serta satonnya
4) teknik pemasangan saton diatas kodokan yang diwasuh maksimal dan diletakkan secara vertikal-lateral

Yang namanya semua benda di alam ini pasti ada terdapat unsur C- nya, lha kok mengapa tidak bisa diuji? Oksidasi yang dilakukan oleh udara juga memegang peran dalam peletakan unsur C di semua benda, yang dari saat ke saat unsur C tersebut senantiasa bertambah & tersedimentasi .... kemudian terserap masuk ke dalamnya..

Korosi adalah perusakan pada suatu logam sebagai akibat kegiatan zat-zat kimia seperti asam atau oksigen atmosfer. Reduksi adalah pengurangan oksigen dari suatu zat- misal: reduksi tembaga oksida menjadi tembaga. Sedangkan karat adalah lapisan oksida besi yang terbentuk akibat peristiwa korosi..Perbedaannya korosi alami dengan buatan adalah - Korosi alami penyebarannya tidak merata dan tampilan ukuran dot-nya pun tidak sama (efek rusak berbeda), tetapi korosi karena disengaja seperti menggunakan garam NaCl, asam HCl atau kamalan H2S04 sebaran korosinya merata dan tampilan dot-nya relatif sama (efek rusak sama)...Jika sudah dibesut dulu tampilannya permukaan bilah akan tampak sama dengan yang baru tapi struktur dan jenis metalurginya tidak berubah...Ini yang membedakan objek tersebut masih ori atau sudah di rehab-rekon. Tapi kalau memang ori lama untuk apa diproses seperti itu. . .Tanah dan air itu tetap mengandung media untuk membantu proses perusakan - misal: mengandung zat-zat kimia dan oksigen...

Keris Madura Pamekasan (terutama) dimana kerajaannya mulai muncul di era abad 15 akhir dan bahkan sebetulnya eksistensinya di abad 16 serta mulai bangkit semenjak pengaruh Mataram masuk ke wilayah Madura, maka dari perjalanan itu budaya Tosan Aji dikembangkan. Bahkan Pamekasan juga dikenal sebagai benteng pertahanan sisi timur Kraton Sumenep dari serangan Mataram ketika itu. Jadi berbeda dengan wilayah Sumenep yang lebih dahulu berdiri (resminya semenjak Arya Wiraraja dari Kediri menjadi Adipati Sungenep/Sumenep - abad ke 13). Bahkan asumsi saya keris Sumenep harusnya ada dari era Singosari. Sayang artefaknya belum ditemukan.

Dengan demikian untuk menangguh keris Madura Pamekasan, eranya dimulai semenjak abad 17-19. Sedangkan Sumenep eranya semenjak abad ke 13 sampai era Sultan Abdurrahman sampai pada era Ario Prabuwinoto (se era dengan PB IX-X).

Karena itu, menangguh keris Sumenep akan lebih susah seperti halnya menangguh keris Majapahit. Maksud saya langgam, material dan eranya. Varian keris Sumenep jauh lebih banyak, juga mengingat mPu yang ada di sana juga sangat banyak. Mulai dari pengaruh langgam Pajajaran & Majapahit, sampai pengaruh langgam Mataram. Apalagi mengingat masyarakat Madura terkenal Adoptif dalam melihat kebudayaan luar.


Saya rasa setiap penangguhan akan selalu muncul "garan njero" yang artinya keris yasan ndalem dari mPu Kraton, serta "garap njaba" atau garap mPu di luar Kraton.

Istilah di atas ada yang setuju ada yang tidak. Tetapi memang demikian kenyataannya suka atau tidak, ada keris yang bisa dikatakan "garap" (dari aspek totalitas) dan ada juga yang tidak. Para mPu di luar Kraton ada yang membela karena menganggap mereka-mereka ini yang merdeka tidak berada di bawah kooptasi kekuasaan kraton. Bagi saya kembali kepada kerisnya (Pusaka Kanda).

Jadi tidak perlu alergi dengan istilah di atas karena memang pusaka kanda, dimana yasan ndalem atas titah ratu/raja akan digarap secara totalitas oleh seorang mPu yang mumpuni. Dan ingat, jaman dulu, Ratu adalah pengejawantahan Dewa, jadi segala titah akan dilaksanakan dengan sebaik-baiknya tanpa kompromi.


Untuk Panjang bilah 36 ideal untuk keris Pamekasan dan Sumenep Luk dengan langgam seperti itu. Kalau keris lurus, bisa mencapai 37-39, bahkan ada yang 40 lebih. Ini sepertinya langgam standard..Madura itu Top..Mereka adaptif, pengelana, dan atraktif. Keris Madura akan tampak atraktif terutama di pamor & garap. Ini terutama, kalau di besi saya rasa tidak terlalu. Tetapi di Pamor sebagai simbolisasi pemaknaan hidup akan ditunjukkan secara lebih gebyar.

Ini kalau ditarik benang merahnya seperti halnya karya mPu Brajaguna, Brajasetika, Braja Karya dan lain-lain di era Surakarta, mereka akan menonjolkan aspek garap bilah dengan pamor atraktif. Sedangkan garap besi, material yang didapat akan sangat membantu pembuatan besi yang istimewa.

Bagi saya, keris adalah sebuah benda budaya. Hasil karya totalitas aspek materiil & spirituil. Aspek Materiil bisa ditiru/duplikasi, tapi aspek spirituil belum bisa. Selain itu dari dulu, sebuah mahakarya, tentu akan banyak yang berharap bisa memperolehnya, minimal duplikat/putrannya. Putran dalam makna positif tentu sangat kita junjung tinggi untuk diteruskan. Dan sebagai pemilik mahakarya itu tentunya bangga bahwa miliknya dijadikan acuan. Toh ilmu leluhur juga harus diturunkan terus menerus ke anak cucu..

Dan "Pasar" akan sulit kita atur karena punya mekanisme alamiah. Becik ketitik ala ketara. Jika ada yang mutrani untuk kepentingan negatif ya itu akan terbuka sendiri suatu saat. Banyak contohnya. Jadi take it easy aja dengan segala upaya putran memutrani itu,ingat aspek materiil dan spirituil berjalan seiring. Putran tentu tidak akan sama plek.



6 komentar:

  1. nice info,...
    terima kasih wedharan-nya pak,..!!
    di tunggu edisi selanjutnya, mungkin untuk bahasan ciri2 keris di tiap era, atau yang lain. Karena sangat membantu dan bermanfaat sekali bagi saya yang masih awam tentang dunia per-keris-an.
    Terima kasih.
    Nuwun

    BalasHapus
  2. Salam kenal Pak dokter, Solonya di mana?

    BalasHapus
  3. Iya. Bagus sekali ulasannya. Mungkin suatu saat diulas juga tentang efek korosi pada jenis pamor yg berbeda terutama pada keris2 baru yg diperlakukan treatment korosi yg tidak hanya pada unsur besinya saja tp juga pada pamornya apakah akan mendapatkan akibat yang sama dengan unsur besinya.

    BalasHapus
  4. Iya. Bagus sekali ulasannya. Mungkin suatu saat diulas juga tentang efek korosi pada jenis pamor yg berbeda terutama pada keris2 baru yg diperlakukan treatment korosi yg tidak hanya pada unsur besinya saja tp juga pada pamornya apakah akan mendapatkan akibat yang sama dengan unsur besinya.

    BalasHapus
  5. Pak dokter sekarang dimana, saya mau ngobrol, ini tulisan yang sangat lama, tapi sangat bermanfaat, saya mau kenal pak Teguh, saya cari di FB tidak ada, Apakah anda Teguh Prakosa>
    terima kasih

    BalasHapus